Senin, Juli 22

Hukum fikih Ahlul Bait berkaitan dengan media massa

Soal: Apakah pemalsuan berita dibolehkan walaupun berita semacam itu tidak berlandaskan kejadian sebenarnya apabila dimaksudkan untuk menundukkan musuh?

Jawab: Pemalsuan berita tidak dihalalkan karena ketidaksahan mutlak dari berkata dusta, kecuali kalau ada kepentingan Islam yang mengikat yang mengantarkan kemenangan Islam atas musuh, yakni ia (musuh-penerj.) mungkin dapat dilemahkan, bingung, dan menyerah secara psikologis.

Soal: Berkaitan dengan pertanyaan di atas, apakah pemalsuan berita dibolehkan apabila Islam tidak dirugikan?

Jawab: Alasan tidak adanya kerugian belaka tidak membenarkan pembuatan berita bohong tetapi mesti ada kepentingan yang mengikat yang lebih penting daripada kerugian yang diharapkan berkata dusta. Hanya dalam suatu kasus kepentingan ini diberi prioritas dalam lingkaran persaingan kepentingan yang lebih disukai.

Soal: Apakah dibolehkan secara legal menambah-nambah pada berita yang benar agar terasa lebih menarik?

Jawab: Boleh apabila penambahan tersebut tidak berlebihan tetapi sejenis pengembangan gaya dan suasana yang bersifat retorik, yang kata-katanya tidak jauh dari realitas. Jika tidak demikian, maka tidak dibolehkan karena keadaan ini bersesuaian dengan alasan hukum yang melarang berkata dusta.

Soal: Bolehkah secara hukum menerbitkan berita yang mengandung cerita-cerita pesimistis yang mendorong para pembaca menjadi putus asa?

Jawab: Pada dasarnya, itu tidak boleh karena hal ini akan mendorong pada penciptaan kekalahan secara psikologis, kelemahan berkonfrontasi, dan kehancuran bangsa dalam menghadapi tantangan.

Soal: Apakah boleh menerbitkan gambar (foto) seorang Muslimah yang tidak berjilbab di koran? Apa batasan dibolehkan menerbitkan foto-foto perempuan non-Muslim?

Jawab: Boleh saja selama tidak menyebabkan kaum muslimah terdorong mengikuti trend tanpa jilbab ini. Sedangkan batasan hukum pelarangan gambar perempuan non-Muslim ini tidak dibolehkan dilakukan dengan cara yang tidak senonoh.

Soal: Apakah boleh bagi surat-surat kabar menerbitkan berita tanpa seizin pemilik berita, yang mungkin tidak ingin berita tersebut diterbitkan?

Jawab: Apabila berita tersebut merupakan rahasia-rahasia yang disembunyikan oleh pemiliknya, maka tidak boleh mengungkapkannya tanpa izin. Sebaliknya, tidak mesti meminta izin pada pihak terkait kecuali jika dapat menyebabkan kerusakan material atau kerusakan moral.

Soal: Bolehkah melebih-lebihkan angka dan statistik mengenai posisi dan kekalahan musuh?

Jawab: Boleh saja apabila perang menuntut demikian dengan tujuan meningkatkan semangat kaum Muslimin. Tetapi sebaliknya diperhatikan pula sisi lainnya dari keadaan ini. Dengan kata lain, sesuatu yang dibesar-besarkan mungkin saja memperbesar tingkat keberhasilan, dan sebagai akibatnya, mujahidin akan santai dan kemudian kurang siap menghadapi musuh karena percaya pada kerentanan musuh.

Soal: Apakah boleh membesar-besarkan aktivitas Islam atau oposisinya? Bila ya, apa batasan dari tindakan (membesar-besarkan) ini?

Jawab: Prinsipnya, hal ini tidak dibolehkan menurut derajat berbohong kecuali terdapat beberapa perkecualian yang kira-kira berguna bagi kepentingan Islam yang tertinggi. Bila dibolehkan, maka mesti dilakukan dengan cara yang tidak menyebabkan kaum Muslimin membesar-besarkan perannya karena terpengaruh baik secara psikologis dan praktis. Selain itu, hal ini barangkali memiliki pengaruh negatif yaitu berupa cara pandang orang-orang pada gerakan Islam disebabkan Islam kehilangan kredibilitas.

Soal: Bagaimana pendapat Anda atas “sumpah serapah jurnalistik” atau perang-perang kecil yang menggunakan jurnalistik sebagai medan perang informasi?

Jawab: Pada dasarnya, sumpah dilarang dalam Islam. Sumpah dapat menyebabkan bahaya yang lebih besar daripada keuntungan bagi jurnalistik, yang statusnya dapat terpuruk di hadapan manusia yang mengkritik gaya sumpah-serapah. Hal ini juga dilihat dalam perang-perang kecil yang dapat menjadikan rakyat lupa akan perang eksistensi, di mana jurnalisme memalingkan ma- nusia dari penyebab-penyebab situasi saat ini yang vital.

Soal: Dalam jurnalisme Islam, beberapa misi koresponden kadang-kadang memerlukan tindakan mata-matai untuk memburu berita. Apakah tindakan ini dibolehkan?

Jawab: Memata-matai tidak dibolehkan bagi kaum Muslimin karena rahasia-rahasia dan keburukan-keburukan manusia merupakan ranah yang terlarang, yang tidak boleh diungkapkan oleh kaum Muslimin, kecuali berkaitan dengan keperluan Islam yang mendesak yang barangkali menuntaskan penderitaan rakyat atau menyejahterakan rakyat.

Soal: Adakah bahayanya dalam tindakan memanipulasi beberapa berita dengan cara meloncati suatu bagian dan menerbitkan yang lainnya?

Jawab: Tindakan ini dibolehkan apabila tidak berlawanan dengan fakta.

Soal: Apakah pernyataan bahwa sebuah surat kabar atau majalah tidak bertanggung jawab atas pendapat seorang penulis dalam artikel atau laporan membebaskan majalah atau surat kabar dari tanggung jawab hukum atau pelanggaran yang dibuat?

Jawab: Boleh saja, kalau artikel atau laporan tersebut tidak membahayakan rakyat, tidak menjadi masalah apakah artikel tersebut dikaitkan ke majalah atau penulis.

Soal: Sesuai dengan ungkapan, “perhatikan apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan”, apakah dibolehkan mempekerjakan seorang penulis yang mempunyai reputasi buruk?

Jawab: Pada dasarnya, boleh saja asalkan tindakan mendukung dan menerbitkan namanya serta pikirannya tidak akan merugikan.

Sumber: Fikih Kontemporer Allamah Husain Fadhlullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 37 = 38