Peradaban manusia saat ini sampai pada suatu titik dimana selain terlihat kemajuan di bidang tekhnologi namun juga terlihat semakin tingginya tingkat stres pada penduduknya. Rasa kehampaan spiritual adalah salah satu faktor penting fenomena ini. Manusia di alam yang serba luas ini menderita karena tidak memiliki tujuan dan tumpuan. Di antara bentuk-bentuk rasa kehampaan spiritual ini adalah:
A. Hampanya jatidiri
Berdasarkan hasil pooling yang diadakan Syura Pendidikan Amerika, 68/8 persen penduduk Amerika berpendapat bahwa menggapai falsafah kehidupan yang bermakna adalah tujuan yang paling tinggi. Berdasarkan pooling lainnya, sebanyak 78 persen mahasiswa menyatakan bahwa memahami arti hidup adalah tujuan utama mereka. Berdasarkan penelitian Universitas Idaho, 51 dari 60 mahasiswa yang nekat melakukan aksi bunuh diri, alasan mereka adalah karena mereka menganggap hidup ini tidak memilik arti apa-apa. Padahal di antara ke-51 mahasiswa tersebut ada 48 mahasiswa yang benar-benar sehat secara fisik dan aktif dalam kegiatan kuliah.[1]
Kehampaan jatidiri berakar pada beberapa masalah: manusia tidak seperti hewan yang jalan hidupnya ditunjukkan oleh insting dan nalurinya. Berbeda dengan manusia-manusia yang hidup di masa lalu, kini maunusia enggan berprilaku sesuai dengan tradisi dan nilai-nilai. Oleh karena itu, ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat, apakah mengikuti jejak langkah orang lain dan bergabung bersama kumpulan sesamanya, ataukah harus berjalan sendiri dan hanya melakukan apa-apa yang diinginkan oleh orang lain saja.[2] Al Qur’an menerangkan sifat ini kepada kita melalui kisah-kisah dan tamsil-tamsilnya tentang kaum kafir dalam berbagai ayat dan surah. Terkadang Al Qur’an mengibaratkan amal orang-orang kafir bagai abu yang beterbangan ditiup angin kencang, angin yang melenyapkan segala amal amal baik mereka sampai tidak ada yang tersisa.[3] Dalam surah An Nur amal perbuatan mereka diibaratkan sebagai fatamorgana, yang mana orang-orang yang kehausan mengiranya sebagai lautan air namun saat mereka mendekat ternyata tidak ada apa-apa.[4] Al Qur’an juga mengibaratkannya sebagai gelapnya kedalaman laut, yang dipermukaannya terdapat ombak keraguan, kebodohan dan amal buruk yang berkecamuk, lalu langit di atasnya pun tertutupi oleh awan hitam kekufuran yang pekat, sehingga saat tangannya dikedepankan, sama sekali tidak dapat terlihat.[5] Dalam surah Al Ankabut, tidak menentunya pribadi orang-orang munafik diibaratkan sebagai sarang laba-laba. Prilaku mereka tidak menghasilkan apa-apa selain kecelakaan bagi diri mereka sendiri.[6] Adapun penyelesaian dan jalan terbaik untuk keluar dari masalah ini adalah kembali pada keyakinan terhadap hari penciptaan dan hari kebangkitan. Selama problema ini belum terselesaikan, tidak akan ada yang dapat terlihat oleh mata selain fatamorgana.
Al Qur’an menganggap orang-orang munafik sebagai orang kafir. Meskipun mereka mengaku beriman, namun kebalikannya yang ada di hatinya. Karena dasar pemikiran mereka adalah keraguan, sama seperti dasar pemikiran orang-orang kafir yang kosong akan kebenaran. Dari segi kejiwaan, orang munafik sama seperti orang kafir, keduanya tidak memiliki jatidiri yang baik.
B. Merasa sendiri dan terusir
Al Qur’an menyebutkan bahwa salah satu sebab tekanan jiwa adalah keterusiran. Dampak rasa keterusiran ini nampak dengan nyata dalam kisah nabi Yusuf as. dan saudara-saudaranya. Alasan perbuatan keji mereka terhadap nabi Yusuf as. adalah kecintaan ayah mereka kepadanya.[7] Jadi, selain rasa iri dengki, mereka juga merasa terusir dari kasih sayang ayah mereka dan mengira hanya nabi Yusuf as. saja yang dicintai; oleh karena itu mereka bertekat untuk membunuh saudara sendiri.
Ketika seorang manusia merasa menginginkan seorang anak, Al Qur’an menjelaskan bahwa keinginan tersebut ada kaitannya dengan rasa kesendirian dan keterusiran. Sering kali orang yang hidupnya sederhana dan memiliki rumah yang biasa-biasa saja namun dikaruniai anak-anak yang sehat tetap merasa bahagia. Namun apabila seseorang tidak memliki anak sebagaimana yang diinginkannya, meskipun kehidupannya penuh dengan kecukupan dan kemewahan, mereka merasa ada yang kurang, bagi mereka itu adalah suatu tekanan jiwa. Oleh karena itu, dalam Al Qur’an kita membaca bahwa meskipun seorang nabi, jika ia diuji dengan tidak dikaruniai seorang anak, mereka memohon dengan sangat agar tidak mati tanpa diberi keturunan dan pewaris.
Nabi Zakariya as. memohon kepada Allah swt. agar ia tidak sendirian:
“Dan Zakariya berdoa kepada Tuhannya: “Ya Tuhanku, janganlah Kau biarkan aku sendiri, sungguh Engkau sebaik-baiknya pewaris.”[8]
Dalam ayat-ayat lainnya, saat Allah swt. mengaruniai hambanya seorang anak, Ia menyebutnya sebagai berita gembira, yang mana hal ini menunjukkan bahwa dengan dikaruniai seorang anak, kesedihan yang dirasakn oleh seorang hamba tercabut dari hatinya.[9] Contoh lainnya adalah kisah nabi Ibrahim as. dan istrinya, Sarah. Contoh lain dari rasa keterasingan dan kesendirian adalah kisah kesedihan nabi Ya’qub as. yang ditinggal oleh anaknya hingga matanya sampai buta karena banyak menangis.[10]
C. Tiadanya sandaran dan tumpuan (lemahnya iman)
Menurut Al Qur’an, salah satu penyebab tekanan jiwa adalah tidak dimilikinya sandaran dan tumpuan spiritual, karena saat seseorang melupakan Tuhannya, hidupnya di dunia pun menjadi sukar baginya:
“Dan barang siapa enggan mengingat-Ku, maka ia akan mendapatkan kehidupan yang susah.”[11]
Seseorang yang tidak memiliki sandaran jiwa, ia tidak akan menemukan rasa cukup (qana’ah) yang menjadi makanan bagi ruhnya, ia juga tidak akan mendapatkan kekuatan ruhani yang dapat menjaganya dari gejolak nafsu dan syahwatnya, dan ia tidak akan menemukan harapan yang dapat mengarahkannya ke masa depan yang baik. Orang yang telah melupakan Tuhannya, harapan-harapannya hanya terbatas pada dunia saja. Padahal dunia dan seluruh isinya yang materi ini tidak akan bisa menyirami dahaga yang dirasakan jiwa. Orang seperti ini selamanya berada dalam kefakiran spiritual dan di dalam hatinya selalu terbayang hal-hal yang tidak mungkin ia dapatkan. Mereka selalu dalam buaian angan-angan yang tak tercapai dan kekhawatiran akan sirnanya kesenangan-kesenangan yang ia miliki. Masyarakat yang hampa akan iman, setiap orang saling takut akan sesamanya, mereka tidak saling mempercayai dan segala urusan hanya bertumpu pada keuntungan-keuntungan pribadi. Al Qur’an berkata tentang orang-orang yang tidak memiliki sandaran iman dalam hatinya:
“Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.”[12]
Orang-orang yang menjadikan kebiasan jahiliahnya sebagai aturan kehidupan, bagaikan tawanan-tawanan yang dirantai dan lehernya tergantung serta kepanya tertengadah melihat ke atas sehingga tidak dapat melihat apa yang ada di samping dan sekitarnya. Dan lebih dari itu, di hadapan dan belakang mereka terdapat dinding-dinding yang tinggi. Tidak hanya berada dalam kesusahan saja, bahkan mata mereka tidak dapat melihat kubangan-kubangan yang ada di jalannya.[13] Dengan penjelasan lain, mereka tidak mendapatkan hidayah fitri dan juga tidak mendapatkan hidayah nadzari;[14] mereka tidak mendapatkan kebahagiaan di akherat, dan tidak pula mendapatkan kebahagiaan di dunia;[15] mereka tidak berhasil dalam sair afaq (perjalanan menuju ke atas) dan juga tidak berhasil dalam sair anfus (perjalanan jiwa).
D. Khurafat dan kepercayaan-kepercayaan batil
Khurafat dan adat istiadat jahiliah juga merupakan faktor terwujudnya tekanan jiwa bagi manusia. Kebiasan membunuh anak-anak perempuan di zaman jahiliyah adalah salah satu contoh yang nyata dan jelas.
Dalam Al Qur’an, begini Allah swt. menggambarkan wajah orang-orang di zaman itu saat mendengar bayi mereka yang terlahir adalah perempuan:
“Setiap kali mereka mendapatkan kabar bahwa anaknya adalah perempuan, muka mereka murung dan tidak rela; mereka pergi menyendiri dari kaumnya dan tidak tahu apakah mereka harus menerima keberadaan putri mereka disertai rasa hina, atau mengubur putri mereka hidup-hidup.”[16]
Ayat di atas menjelaskan bagaimana tekanan jiwa yang ditimbulkan oleh adat istiadat yang salah di zaman jahiliah. Orang-orang Arab jahiliah saat itu berada dalam tekanan jiwa dari segala arah: kefanatikan pada adat jahiliah dalam membunuh anak-anak perempuan, keinginan memiliki anak,, pertentangan antara kecintaan seorang ayah dan pembunuhan anak, dan lain sebagainya.
[1] Khuda dar Nakhudagah (Tuhan dalam Alam Bawah Sadar), Victor Francle, halaman 125 – 148.
[2] Ibid, halaman 155.
[3] Ibrahim, ayat 18: “Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia).”
[4] An Nur, ayat 39: “Amal usaha mereka bagaikan fatamorgana yang dikira oleh orang-orang yang haus sebagai air.”
[5] An Nur, ayat 40: “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak pula, di atasnya lagi terdapat awan gelap gulita yang bertumpuk-tumpuk, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya.”
[6] Al Ankabut, ayat 41.
[7] Yusuf, ayat 8.
[8] Al Anbiya’, ayat 89.
[9] Maryam, 4 – 5.
[10] Yusuf, ayat 84: “Ia merintih: “Duhai Yusufku…” Dan matanya memutih karena kesedihannya yang berkepanjangan. Namun ia tetap sabar dan memendam amarahnya.”
[11] Thaha, ayat 124.
[12] Yasin, ayat 8 dan 9.
[13] Tafsir e Nemune, Nashir Makarim Syirazi, jilid 18, halaman 326.
[14] Tafsir Al Kabir, Fakhrur Razi, penjelasan ayat.
[15] Tafsir Al Qurthubi, penjelasasn ayat.
[16] An Nahl, ayat 58.