Islam Segalanya!

Seks dan daging ayam!

Satu poin yang menarik dibaca tentang seks, pernikahan, dan daging ayam. Silahkan:

Seks itu sendiri dari sudut pandang materi tidak ada bedanya dengan antara yang dilakukan oleh pelacur dengan yang dilakukan suami istri, sama sekali tidak ada bedanya. Yang mereka lakukan dari awal hingga penetrasi, tak ada bedanya. Perbedaannya hanya di sisi batin (akad nikah dan tanpa akad nikah).

Hal ini tidak mengherankan. Jika anda heran, mengapa anda tidak heran dengan: “daging ayam yang tidak disembelih secara syar’i dihukumi dengan bangkai dan haram hukumnya”? Ya, ayam yang mati yang disembelih oleh non muslim haram hukumnya dan dihukumi sebagai bangkai (ketahui bahwa syarat sahnya menyembelih binatang agar halal dagingnya adalah penyembelihnya harus muslim, menyebut bismillah, menghadap kiblat, dan seterusnya). Memang secara materi apa bedanya daging ayam yang disembelih oleh tetangga muslim kita dengan ayam yang dipotong oleh orang Jepang non Muslim di negaranya? Toh wujud daging ayam keduanya sama? Kenapa yang satu halal dan yang lainnya haram?

Seks adalah suatu hal yang alami, tuntutan biologis, dan Tuhan memang menciptakannya untuk kita. Lalu bagaimana menggunakannya dengan benar, Tuhan memberikan aturan kepada kita.

Masyarakat barat, keterlaluan dalam kebebasan, sehingga melegalkan seks seperti apapun juga asal “suka sama suka”.

Islam tidak mengajarkan kita untuk menjadi hewan, mengumbar nafsu seenaknya saja seperti masyarakat Barat. Islam pun tidak mengekang kita dan memerintahkan kita untuk membunuh naluri seksual. Namun Islam memberi kita jalur yang benar dalam hal ini. Kemudian apa jalur itu? Syiah dan Ahlu Sunah berikhtilaf, Syiah meyakini ada jalur yang bernama mut’ah selain nikah daim, namun Ahlu Sunah tidak. Lalu bagaimana mereka bisa berikhtilaf? Karena mereka sejak awal sudah berikhtilaf semenjak wafat nabi, di saat sebagian orang memilih Abu Bakar sebagai khalifah, dan sebagian lain mengikuti pesan nabi untuk menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya. Segala ikhtilaf, kembali ke ikhtilaf siapa pengganti pasca nabi.

Kita semua saat ini tidak bisa menyelesaikan ikhtilaf Sunah – Syiah seperti dalam hal nikah mut’ah; karena inti permasalahan bukan di sini, mut’ah hanyalah satu ranting ikhtilaf yang bersumber dari ikhtilaf inti yang sebenarnya: Kekhalifahan, apakah umat yang memilih khalifah, atau nabi yang menentukan khalifah setelahnya? Di situlah inti ikhtilaf.

Arsip

Lokasi Para Pengunjung

HM Counter

Unique

Pages|Hits |Unique

  • Last 24 hours: 442
  • Last 7 days: 2.060
  • Last 30 days: 6.487
  • Online now: 8
Traffic Counter